⋆*PROFILE: i. INFORMATION

Memiliki warna mata sehitam langit malam, rambut yang berwarna merah marun pendek dengan beberapa helainya menjulang ke bawah sepanjang dagu, juga ekspresi serius yang senantiasa menyertai paras, memberi kesan bahwa Liam bukanlah sosok yang mudah didekati. Di umurnya yang ke 20 tahun, dengan tinggi 160 sentimeter, menjadikan Liam sebagai anggota keluarga terpendek kedua di keluarganya.
| Nama | Liam Danendra |
| Jenis Kelamin | Laki-laki |
| Umur | 20 tahun |
| Tempat | Bandung |
| Tanggal lahir | 28 April |
| Okupasi | Mahasiswa jurusan hubungan internasional |
| ㅤ | Pelayan bakery paruh waktu |
⋆*PROFILE: ii. PERSONALITY
Sekilas, Liam terlihat sebagai sosok yang serius. Walau begitu, sebetulnya ia merupakan sosok yang cukup ekspresif dan seringkali memperlihatkan apa yang dia pikirkan, misalnya ketika ia sedang kesal, lelaki itu akan memperlihatkannya baik melalui ucapan maupun gestur tubuh.Liam memiliki komitmen kuat terhadap peraturan. Baginya, aturan bukan hanya patokan yang sudah ditetapkan untuk mengatur keharmonian seluruh pihak yang terlibat, tetapi juga instrumen penyelamat jiwa. Tidak heran bilamana melihat Liam yang sangat patuh terhadap peraturan. Demikian, dirinya yang sekarang tidak seserius dulu, dimana taat adalah sebuah keharusan yang absolut.
| Aligment | Morality |
|---|---|
| Lawful Netral | ISTJ |
Disisi lain, dia sangat cerdas dan pintar. Dia mampu menyerap informasi dengan cepat dan memecahkan permasalahan yang dilemparkan kepadanya. Liam pun merupakan observer handal, tapi ia sekalipun adalah sosok yang naif dalam urusan hati manusia.Di atas semua itu, Liam itu lembut dan perhatian terhadap teman-temannya. Memang, ada kalanya Liam terlihat ragu dalam memperlihatkan kasih sayangnya, tapi semua itu karena afeksi adalah sesuatu yang Liam jarang dapatkan sehingga dia agak kesulitan.
⋆*PROFILE: iii. HISTORY

Liam sadar, keberadaannya dalam keluarga Danendra tidak lebih dari sebuah benalu yang menempel pada inang. Sejak ia hadir di tengah-tengah mereka, ayah tidak pernah sekalipun menaruh atensi, ibu tiri tiada lelah menghujam dengan kata-kata menyakitkan nan menusuk batin, dan kedua saudara tiri yang berperilaku seolah-olah dirinya adalah makhluk paling jahat dan hina sedunia.Dihadapi situasi seperti itu, anak kecil manapun barangkali tidak sadar akan kemurkaan mereka dan malah berlomba-lomba untuk mencari perhatian mereka. Tapi tidak dengan Liam. Dari kecil, Liam bukanlah bocah naif yang tidak paham situasi. Justru ia paling sadar di atas segalanya. Sekalipun umurnya masih tergolong sangat muda, si merah delima mafhum betul intensi dari tingkah laku agresif yang ditujukan kepadanya secara terang-terangan. Mereka membenci keberadaannya. Itu adalah sebuah pernyataan yang tak terbantahkan.Untuk itu, Liam tidak pernah mencoba meraih ataupun mengharapkan mengharapkan secuil afeksi dari keluarganya. Baginya, mereka yang telah memperbolehkannya untuk tinggal di bawah atap rumah keluarga ini sudah lebih dari cukup. Liam tidak boleh tamak. Ibunya selalu mewanti-wanti akan hal itu.“Tamak hanya akan membawa kesengsaraan dan kesedihan.”Sebab di mata mereka, Liam selamanya akan menjadi seorang benalu yang telah memecah belah keluarga mereka, tak peduli sekeras apapun ia mencoba merubahnya.

Liam bukanlah anak dari istri sah ayahnya, melainkan dari simpanan ayahnya. Tidak banyak yang dia ingat mengenai ibu kandungnya, hanya segelintir perasaan bahwa ibunya pernah menyayanginya pada suatu waktu.Di umurnya yang ke lima, sang ibu membawanya ke sebuah restoran dimana mereka bertemu dengan ayah kandungnya untuk pertama kalinya. Entah apa yang mereka diskusikan sampai ayahnya mau menanggungnya, tetapi setelah hari itu, dia tidak pernah melihat ibu kandungnya lagi.Saat dia diboyong ke dalam rumah Danendra, eksistensinya menuai banyak reaksi. Dari semua orang, istri ayahnya—atau bisa dibilang ibu tirinya—lah yang paling buruk. Dia benar-benar membenci keberadaan Liam, apalagi ketika Liam mencoba memanggilnya dengan sebutan ibu.Tidak berhenti sampai disitu, kebencian yang dirasakan oleh ibu tirinya pun terlihat dari bagaimana caranya memperlakukan dirinya dan kedua saudara tirinya. Ketika ayahnya ada di rumah, ibu tirinya akan menjadi lebih ramah dan baik terhadapnya. Tapi ketika ayahnya berada di luar, sifatnya akan berubah seratus delapan puluh derajat. Oleh ibu tirinya, ia diperlakukan sangat buruk; semua aspek dalam hidupnya berada dalam genggaman tangan sang ibu tiri. Mulai dari makanan hingga bagaimana ia bersosialisasi.Sebab inilah, Liam menghabiskan masa kecilnya dalam kesendirian dan aturan yang ia buat untuk bertahan hidup di rumah itu.

Ada 3 aturan yang Liam buat untuk dirinya sendiri, yaitu:1. Selalu patuh terhadap perkataan ibu tiri.
2. Jangan melakukan sesuatu yang mempermalukan nama keluarga.
3. Jangan memperlihatkan perasaannya secara terang-terangan.Mulanya, Liam agak kesulitan mematuhi peraturan yang ia buat seorang diri, terlebih dengan berbagai perintah ibu tirinya yang sangat mengekang hidupnya. Dia tidak boleh melakukan ini lah, dia tidak boleh melakukan itu lah, dan masih banyak lagi.Tapi lambat laun, Liam pun mulai menyesuaikan diri dengan kerasnya kehidupan yang harus ia jalani. Mau bagaimanapun, semua ini demi bertahan hidup. Hanya ia seorang yang bisa dipercaya di dalam rumah ini.Waktu terus bergulir, Liam pun tumbuh menjadi sosok pemuda yang berprestasi dan patuh terhadap ibu tirinya. Tidak satu pun perintah ibu tiri ia bantah, bukan semata-mata karena dirinya merupakan anak berbakti, tetapi karena sebuah keharusan. Kali terakhir membangkang, Liam berakhir dengan trauma gelap berkepanjangan dan itu adalah hal terakhir yang ia inginkan.Di sekolah, namanya dikenal seantero sekolah sebagai murid yang selalu menduduki peringkat satu di bidang pelajaran manapun. Semua tes yang dilakukan selalu berbuah manis. Mereka pikir, Liam seorang jenius dari lahir. Nyatanya, pengorbanannya terhadap waktu tidur dan kerja kerasnya yang menyebabkan demikian.Sementara di rumah, Liam dikenal sebagai sosok yang tak banyak bicara. Pemuda ini jarang sekali mengekspresikan suasana hatinya selain raut wajah serius yang senantiasa terpasang di paras tiap waktu. Itu mengapa dari waktu ke waktu, gangguan kedua kakak tirinya berangsur-angsur berkurang.Terlepas dari perasaannya yang sebenarnya, Liam tidak bisa melakukan apapun selain mengikuti peratuan yang telah ia buat. Mau bagaimana lagi? Hanya dengan beginilah Liam dapat bertahan hidup. Menurunkan harga diri demi sesuap nasi. Menyedihkan sekali.Atau setidaknya begitulah pikir Liam sampai suatu ketika, sebuah uluran tangan berada tepat di depan wajahnya dalam bentuk pamannya.Pamannya yang membuat Liam sadar bahwa ia tak bisa hidup seperti ini, karena pada akhirnya, ia tetap akan mengorbankan hidupnya. Pamannya yang melindunginya dari cerca murka keluarganya, membawanya keluar dari keluarganya, memberikan sebuah rumah yang selama ini Liam damba-dambakan.Akhirnya, untuk pertama kalinya, Liam bisa bernapas dengan lega.Tapi, benarkah bahwa dia telah bebas seutuhnya?

⠀
⠀
⋆*PROFILE: iv. TRIVIA
Nama Liam memiliki arti pelindung, sementara Danendra memiliki arti raja. Jika disambungkan, Liam Danendra berarti pelindung raja.
Tim bubur diaduk.
Mengerti tiga bahasa, yakni Indonesia, Jerman, dan Inggris.
Bisa menyetir, tetapi sering sekali mengendarai dengan amat, sangat cepat.
Lebih menyukai kopi daripada teh.
Tidak suka jika ada seseorang yang mengejek tinggi tubuhnya.
Menyukai kue strawberry.
Diberi sebuah unit apartemen oleh pamannya sebagai hadiah masuk kuliah.
Merupakan ketua himpunan jurusannya.
Mendapat beasiswa untuk kuliahnya.
Bekerja di sebuah kafe dekat apartemennya.
Kalau berbicara seringnya pakai aku-kamu.



